
Dolar AS menjauh dari level tertinggi tiga setengah bulan, Selasa, karena yield US Treasury relatif stabil menjelang data inflasi dan lelang surat utang Amerika Serikat pekan ini, meningkatkan mata uang berisiko seperti poundsterling, Aussie dan Kiwi.
Indeks Dolar (Indeks DXY) melemah 0,46% menjadi 91,95, terhadap sekeranjang enam mata uang utama, setelah menyentuh level tertinggi tiga setengah bulan di 92,506 selama jam perdagangan Asia, demikian laporan Reuters, di New York, Selasa (9/3) atau Rabu (10/3) pagi WIB.
Imbal hasil US Treasury 10-tahun turun menjadi 1,544% setelah mencapai 1,613% pada sesi Senin, mendekati level tertinggi 13-bulan. Imbal hasil meningkat di tengah ekspektasi bahwa rebound ekonomi yang lebih cepat dari perkiraan akan memicu lonjakan inflasi dengan Presiden Joe Biden diprediksi menandatangani paket bantuan virus korona senilai USD1,9 triliun secepatnya pekan ini.
"Kita melihat imbal hasil turun setelah mendapatkan komentar yang menenangkan dari Menteri Keuangan Janet Yellen yang mengesampingkan prospek inflasi yang tak terkendali," kata Joe Manimbo, analis Western Union Business Solutions.
Senin, Yellen mengatakan paket bantuan Biden akan memicu pemulihan ekonomi Amerika yang "sangat kuat", dan ada alat untuk menangani inflasi jika ekonomi bergerak terlalu panas.
Tetapi beberapa pelaku pasar waspada, imbal hasil dapat naik lebih lanjut minggu ini karena pasar mencerna lelang US Treasury bertenor 3, 10, dan 30 tahun senilai USD120 miliar, terutama setelah lelang yang lemah pekan lalu dan penjualan surat utang 7 tahun yang melihat lonjakan dalam imbal hasil.
"Saya tidak yakin perputaran ini sudah berakhir," kata Marc Chandler, Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global forex. "Saya ingin melihat beberapa tindak lanjut untuk bisa mengubah pandangan saya."
Data indeks harga konsumen dan indeks harga produsen Amerika, yang akan dirilis pada Rabu dan Jumat, juga akan diawasi dengan ketat.
"Stabilitas kemungkinan akan tetap menjadi tema utama menjelang lelang US Treasury dan rilis inflasi Amerika, yang merupakan risiko jangka pendek bagi pasar FX," kata analis ING dalam catatan hariannya.
Mata uang terkait komoditas diuntungkan dari penurunan imbal hasil, dengan dolar Australia naik 0,9% menjadi USD0,7718 dan dolar Selandia Baru menguat 0,65% menjadi USD0,7174.
Prospek ekonomi terlihat cerah secara global karena akselerasi peluncuran vaksin Covid-19 di beberapa negara dan juga karena paket stimulus Amerika, kata Organisation for Economic Cooperation and Development ( OECD ), menaikkan perkiraannya.
Euro meningkat 0,47% menjadi USD1,19035 dan sterling bertambah 0,58% menjadi USD1,3901.
Selanjutnya, pedagang akan fokus pada pertemuan dua hari Federal Reserve, pekan depan. Ekspektasinya sangat rendah bahwa bank sentral akan mengumumkan perubahan kebijakan setelah Chairman Jerome Powell pekan lalu tidak mengungkapkan kekhawatiran tentang kenaikan imbal hasil obligasi.
Diunggah ulang dari Indopremier, semua hak cipta dimiliki oleh penulis asli.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

古いコメントはありません。ソファをつかむ最初のものになりましょう。