
Harga minyak mentah sempat bergerak dengan fluktuasi tajam secara harian sejak pekan ketiga bulan lalu hingga pekan pertama bulan ini. Namun setelah itu harga minyak cenderung mulai menginisiasi pola uptrend-nya.

Harga minyak mentah berjangka lanjut menguat lebih dari 0,7% hari ini, Rabu (14/4/2021). Kontrak Brent menguat 0,71% ke US$ 64,12/barel sementara kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,75% dan kembali tembus US$ 60/barel.
Harga Minyak Mentah Berjangka (US$/Barel)

Harga minyak mentah sedang mendapatkan banyak sentimen belakangan ini. Mulai dari sentimen negatif yang membenani harga hingga sentimen yang mengerek harga naik.
Sentimen yang mengerek harga naik dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah yang memanas. Ada kabar yang menyebutkan bahwa fasilitas minyak Saudi Aramco di Jubail dan Jeddah diserang oleh kelompok pemberontak Houthi. Belum ada konfirmasi resmi dari pihak Saudi Aramco terkait hal ini.
Sementara itu, Teheran mengatakan ledakan pada hari Minggu di situs nuklir utamanya adalah tindakan sabotase oleh musuh bebuyutan Israel dan bersumpah akan membalas dendam.
"Kenaikan ketegangan geopolitik hanya akan memiliki dampak bullish yang mencolok pada harga minyak jika dibarengi dengan gangguan pasokan fisik yang sebenarnya," kata analis PVM dalam sebuah catatan, mengutip Reuters.
Di sisi lain aktivitas ekonomi yang mulai tampak semakin bergeliat juga memberikan dampak bullish bagi harga si emas hitam.
Impor minyak mentah ke China melonjak 21% di bulan Maret naik dari titik terendah tahun sebelumnya karena adanya peningkatan aktivitas di kilang minyak.
Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam laporan bulanannya menaikkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak tahun 2021 sebesar 70.000 barel per hari (bph) dari perkiraan sebelumnya menjadi 5,95 juta bph.
Hal lain yang juga mendukung harga adalah perkiraan stok minyak mentah AS yang turun minggu lalu dan menandai penurunan tiga minggu berturut-turut, sementara persediaan produk olahan minyak dan bensin kemungkinan tumbuh, menurut analis dalam jajak pendapat Reuters.
Hanya saja risiko pemulihan ekonomi masih tertahan dengan kenaikan kasus infeksi Covid-19 yang mengganas. India kini sudah melampui Brazil dalam hal kasus kumulatifnya akibat kasus infeksi harian yang terus tembus rekor.
Di sisi lain progress vaksinasi yang lambat turut membebani. Apalagi baru-baru ini vaksin buatan Johnson & Johnson (J&J) diminta untuk dihentikan sementara karena memicu terjadinya pembekuan pembuluh darah yang serius.
Bagaimanapun juga kenaikan harga minyak saat ini masih dipicu oleh aksi spekulasi para pelaku pasar. Faktor fundamental masih belum bisa dipastikan karena risiko di pasar masih tinggi.
Diunggah ulang dari CNBC Indonesia, semua hak cipta dimiliki oleh penulis asli.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

古いコメントはありません。ソファをつかむ最初のものになりましょう。