
Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Juni 2025 turun menjadi US$ 433,3 miliar (setara Rp7.019 triliun), tumbuh 6,1% secara tahunan (yoy). Angka ini lebih rendah dibanding triwulan I-2025 yang tumbuh 6,4% (yoy) dan juga menurun dari posisi Mei 2025 sebesar US$ 435,6 miliar.
Penurunan ini terutama dipicu oleh kontraksi ULN sektor swasta. Per akhir Juni, ULN swasta tercatat US$ 194,9 miliar, turun 0,7% (yoy), dengan porsi terbesar berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan, listrik dan gas, serta pertambangan.
Sementara itu, ULN pemerintah justru naik menjadi US$ 210,1 miliar, tumbuh 10% (yoy), didorong masuknya modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) domestik. Dana tersebut banyak dimanfaatkan untuk sektor kesehatan, administrasi dan pertahanan, pendidikan, konstruksi, serta transportasi, dengan 99,9% berupa utang jangka panjang.
BI menegaskan struktur ULN Indonesia tetap sehat, dengan rasio terhadap PDB di level 30,5%, turun dari 30,7% pada triwulan sebelumnya. Sebanyak 85% ULN merupakan utang jangka panjang, mencerminkan penerapan prinsip kehati-hatian.
Ke depan, BI dan pemerintah akan terus memperkuat koordinasi pemantauan ULN, memastikan pemanfaatannya optimal untuk pembiayaan pembangunan sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

-終わり-