
Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada perdagangan Selasa (21/4) pagi dengan posisi di Rp17.126 per dolar AS. Mata uang Garuda naik sekitar 39,7 poin atau 0,23 persen dibandingkan sesi sebelumnya.
Penguatan ini sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga menguat terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,01 persen, peso Filipina menguat 0,04 persen, dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,06 persen. Namun, tidak semua mata uang Asia berada di jalur positif. Dolar Singapura masih melemah 0,06 persen, Yen Jepang turun 0,09 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,03 persen, serta dolar Hong Kong terkoreksi 0,03 persen.
Dari kelompok mata uang negara maju, pergerakannya cenderung bervariasi. Euro Eropa melemah 0,06 persen, Poundsterling Inggris turun 0,06 persen, dan Dolar Australia terkoreksi 0,04 persen. Sementara itu, Dolar Kanada mencatat penguatan tipis 0,01 persen dan franc Swiss melemah 0,05 persen.
Penguatan rupiah dipengaruhi oleh melemahnya dolar AS serta turunnya harga minyak mentah dunia. Sentimen positif juga datang dari harapan pasar terhadap potensi tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang dapat meredakan ketegangan geopolitik.
Meski demikian, pergerakan rupiah masih dibayangi ketidakpastian global. Pelaku pasar tetap mencermati perkembangan negosiasi serta dinamika harga komoditas energi.
Untuk hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.050 hingga Rp17.200 per dolar AS, dengan potensi fluktuasi mengikuti sentimen global yang masih berubah-ubah.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

-終わり-