
Nilai tukar rupiah kembali melemah ke level Rp17.370 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi (30/4). Mata uang Garuda turun 44 poin atau sekitar 0,26 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, mencerminkan tekanan yang masih kuat dari faktor eksternal.
Meski sebagian besar mata uang Asia justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS, seperti yuan China, peso Filipina, yen Jepang, hingga won Korea Selatan, rupiah justru bergerak berlawanan dan tetap berada di zona merah. Di kawasan, hanya ringgit Malaysia yang ikut melemah. Pergerakan serupa juga terlihat pada mata uang negara maju yang cenderung bervariasi. Poundsterling Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss menguat, sementara euro menjadi satu-satunya yang terkoreksi terhadap dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh sentimen global yang kembali memanas. Investor masih mencermati ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah, khususnya soal kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, hasil pertemuan Federal Open Market Committee yang cenderung hawkish ikut mendorong penguatan dolar AS. Kondisi ini membuat mata uang emerging market, termasuk rupiah, semakin tertekan.
Faktor lain yang memperberat beban rupiah adalah kenaikan harga minyak dunia, setelah Donald Trump menyatakan akan tetap memblokade Selat Hormuz hingga tercapai kesepakatan nuklir dengan Iran.
Dengan kombinasi sentimen tersebut, analis memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS dalam jangka pendek, dengan tekanan yang belum sepenuhnya mereda.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

-終わり-