
Harga emas bergerak terbatas pada perdagangan Kamis di sesi Asia. Meski sempat mencatat kenaikan tipis, emas masih kesulitan melanjutkan penguatan karena tekanan dari dolar AS yang tetap kuat setelah keputusan kebijakan terbaru dari Federal Reserve.
Pasar masih mencerna arah kebijakan The Fed yang cenderung hawkish, setelah bank sentral tersebut mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%. Sikap ini mendorong dolar AS menguat ke level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir, sehingga membatasi kenaikan harga emas yang tidak memberikan imbal hasil. Selain faktor kebijakan moneter, harga minyak yang tetap tinggi akibat gangguan pasokan global juga menambah kekhawatiran inflasi. Kondisi ini membuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama semakin kuat, yang secara umum tidak menguntungkan emas.
Di sisi geopolitik, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan. Kebuntuan negosiasi dan penolakan terhadap beberapa proposal damai membuat pasar tetap berada dalam mode “risk-off”. Situasi ini justru memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman, sehingga memberi tekanan tambahan pada komoditas emas.
Ketegangan juga dipicu oleh gangguan berkelanjutan di kawasan strategis Selat Hormuz, yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan turut menjaga harga minyak tetap tinggi.
Meski demikian, emas sempat menunjukkan pemulihan ringan setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam sebulan. Saat ini, pergerakan emas masih dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek dolar AS serta ekspektasi data ekonomi Amerika Serikat, termasuk pertumbuhan PDB dan indeks inflasi PCE.
Ke depan, pasar diperkirakan masih akan volatil karena investor menunggu arah jelas dari kebijakan moneter global serta perkembangan konflik geopolitik yang masih belum mereda.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

-終わり-