
Bank Indonesia menyoroti maraknya pemberian suku bunga khusus (special rate) kepada deposan jumbo sebagai penyebab lambatnya penurunan bunga kredit perbankan, meski BI-Rate sudah turun ke 4,75 persen. Praktik ini membuat biaya dana (cost of loanable fund) bank tetap tinggi.
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Solikin M Juhro, menjelaskan banyak bank menawarkan bunga simpanan di atas bunga penjaminan LPS yang sebesar 3,5 persen demi menarik dana besar. Akibatnya, ruang penurunan suku bunga kredit menjadi terbatas.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan dana pihak ketiga yang mendapat special rate mencapai Rp2.380,4 triliun, dengan tingkat tertinggi berasal dari kelompok pemerintah BUMN. BI menilai praktik ini menjadi salah satu faktor utama suku bunga kredit sulit turun meski pelonggaran moneter telah dilakukan.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。
