
Harga minyak dunia sedang berada di jalur penurunan tahunan terdalam sejak pandemi 2020. Tekanan utama datang dari kekhawatiran pasar akan surplus pasokan yang besar, yang diperkirakan masih akan membayangi perdagangan hingga memasuki tahun baru. Minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), turun ke bawah 58 dolar AS per barel, melemah hampir 20% sepanjang tahun ini. Sementara itu, Brent untuk pengiriman Maret bertahan di kisaran 61 dolar AS per barel.
Dalam jangka pendek, perhatian pelaku pasar tertuju pada pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Januari. Selain itu, laporan industri minyak AS yang cenderung negatif ikut menekan sentimen. Data dari American Petroleum Institute menunjukkan lonjakan persediaan minyak mentah sebesar 1,7 juta barel pekan lalu, disertai kenaikan stok bensin dan distilat, yang menandakan lemahnya permintaan.
Sepanjang tahun ini, harga minyak terus melemah karena pasokan dari OPEC+ dan negara pesaing meningkat, sementara pertumbuhan permintaan global melambat. Sejumlah lembaga besar, termasuk Badan Energi Internasional, memperkirakan akan terjadi kelebihan pasokan yang signifikan tahun depan. Bahkan OPEC sendiri memproyeksikan adanya surplus, meski dalam skala yang lebih moderat.
Di luar faktor ekonomi, situasi geopolitik juga ikut memengaruhi pasar. Uni Emirat Arab menyatakan akan menarik pasukannya dari Yaman di tengah meningkatnya ketegangan dengan Arab Saudi, yang sama-sama merupakan anggota penting OPEC. Di sisi lain, pasar juga mencermati langkah Amerika Serikat yang memblokade sebagian pengiriman minyak Venezuela serta tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro, yang menambah ketidakpastian arah harga minyak ke depan. (az)
Sumber: Newsmaker.id
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

古いコメントはありません。ソファをつかむ最初のものになりましょう。