
Nilai tukar rupiah kembali menguat pada perdagangan Rabu pagi (11/2). Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp16.768 per dolar AS, naik sekitar 43 poin atau 0,26 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penguatan ini terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi dolar AS, setelah data penjualan ritel Amerika Serikat dirilis lebih lemah dari perkiraan pasar. Kondisi tersebut memberi ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang juga dibuka di zona hijau. Yen Jepang dan baht Thailand sama-sama mencatat penguatan, diikuti peso Filipina dan won Korea Selatan. Yuan China sedikit melemah tipis, sementara dolar Singapura bergerak naik tipis dan dolar Hong Kong justru terkoreksi ringan. Sentimen positif juga terlihat pada mata uang utama negara maju. Euro, poundsterling Inggris, dan franc Swiss kompak menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia bahkan mencatat kenaikan yang cukup solid, disusul dolar Kanada.
Meski demikian, analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah kemungkinan masih terbatas. Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dan memilih menunggu rilis data penting dari Amerika Serikat, khususnya laporan ketenagakerjaan nonfarm payroll (NFP) yang akan diumumkan malam ini. Menurutnya, selama belum ada kejutan besar dari data ekonomi AS, pergerakan rupiah berpotensi tetap stabil dalam kisaran terbatas. Untuk hari ini, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp16.750 hingga Rp16.850 per dolar AS.
Dengan kondisi global yang masih fluktuatif, arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama perkembangan data ekonomi AS dan respons pasar terhadapnya.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

-終わり-