
Nilai tukar rupiah kembali tertekan setelah libur Imlek. Pada perdagangan Rabu pagi (18/2), mata uang Garuda dibuka di level Rp16.869 per dolar AS, melemah 32 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang masih berlanjut. Mayoritas mata uang Asia juga bergerak di zona merah. Yen Jepang, peso Filipina, yuan China, dan dolar Singapura tercatat melemah terhadap greenback. Sementara itu, won Korea Selatan hanya menguat tipis, baht Thailand naik moderat, dan ringgit Malaysia mencatat penguatan paling besar di kawasan. Di kelompok negara maju, tren pelemahan terhadap dolar AS juga terlihat. Dolar Australia terkoreksi cukup dalam, sementara euro dan poundsterling Inggris masing-masing melemah tipis. Dolar Kanada pun ikut tertekan.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut sepanjang perdagangan hari ini. Penguatan dolar AS dipicu oleh pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Gubernur The Fed Michael Barr mengindikasikan suku bunga acuan AS kemungkinan akan dipertahankan lebih lama. Senada, Presiden The Fed San Francisco Mary Daly menegaskan bahwa inflasi AS masih berada di atas target 2 persen, sehingga pelonggaran kebijakan moneter belum menjadi prioritas. Selain sentimen eksternal, pelaku pasar juga mencermati kemungkinan sikap lebih dovish dari Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur bulan ini. Ekspektasi tersebut turut memengaruhi pergerakan rupiah.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS, dengan tekanan utama masih berasal dari dinamika kebijakan moneter global dan sentimen pasar terhadap dolar AS.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

-終わり-