
Di tengah ketidakpastian global, Bank Indonesia (BI) memastikan tetap akan aktif menjaga stabilitas rupiah, bahkan selama periode libur Lebaran. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap meningkatnya gejolak pasar akibat konflik di Timur Tengah yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Tetap Intervensi Meski Pasar Domestik Libur
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa BI akan tetap hadir di pasar selama libur Idulfitri 2026. Alasannya sederhana: meskipun pasar domestik tutup, perdagangan rupiah di pasar global tetap berjalan. Artinya, fluktuasi nilai tukar tetap bisa terjadi dan berpotensi berdampak ke ekonomi Indonesia.
Antisipasi Tekanan dari Konflik Global
Menurut BI, meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, berpotensi memicu tekanan lebih lanjut terhadap rupiah. Dalam kondisi seperti ini, investor global biasanya cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi lebih rentan tertekan.
BI Siapkan Berbagai Instrumen Stabilisasi
Untuk menjaga stabilitas, BI menyatakan akan mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter.
Langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- intervensi di pasar valuta asing
- penguatan likuiditas dolar
- penyesuaian kebijakan sesuai kondisi pasar
Tujuannya adalah memastikan rupiah tidak mengalami pelemahan yang terlalu tajam di tengah gejolak global.
Rupiah Masih Tertekan Dekati Rp17.000
Pada saat yang sama, rupiah memang masih berada dalam tekanan. Nilai tukar tercatat di sekitar Rp16.971 per dolar AS, melemah sekitar 34 poin atau 0,20 persen.
Posisi ini menunjukkan rupiah semakin mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, level yang cukup sensitif bagi pasar.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

-終わり-