
Lonjakan harga minyak akibat memanasnya kembali konflik di Timur Tengah mulai mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Eropa. Jelang rapat European Central Bank (ECB) pada 22 Juli nanti, investor yang sebelumnya hampir yakin suku bunga akan ditahan kini kembali mempertimbangkan kemungkinan pengetatan kebijakan jika tekanan inflasi terus meningkat.
Perubahan sentimen ini dipicu oleh konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali mengancam keamanan pasokan minyak melalui Selat Hormuz. Harga minyak Brent kembali naik hingga berada di atas US$85 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan kisaran sekitar US$70 pada pekan lalu.
Harga Minyak Jadi Faktor Penentu Keputusan ECB
ECB sebelumnya menaikkan suku bunga deposito sebesar 25 basis poin pada Juni menjadi 2,25%, setelah inflasi zona euro kembali meningkat akibat lonjakan biaya energi.
Meski inflasi zona euro sempat melambat menjadi 2,8% pada Juni dari 3,2% pada Mei, kenaikan harga minyak terbaru kembali memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat meningkat lagi dalam beberapa bulan ke depan. Presiden Bundesbank sekaligus anggota Dewan ECB, Joachim Nagel, menegaskan bahwa kondisi saat ini masih sangat tidak pasti.
Sementara itu, pejabat ECB lainnya, Martin Kocher, mengatakan hingga saat ini belum terlihat second-round effects atau efek lanjutan berupa kenaikan upah dan harga barang secara luas. Namun, ECB tetap memantau risiko tersebut dengan ketat karena dapat memicu inflasi yang lebih persisten.
Pasar Kini Mulai Mengubah Ekspektasi
Sebelum konflik kembali memanas, mayoritas investor memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli. Sekarang peluang tersebut mulai berubah. Walaupun probabilitas kenaikan suku bunga bulan Juli masih relatif rendah (sekitar 20%), pasar tetap memperkirakan 2 kali kenaikan suku bunga tambahan hingga musim semi tahun depan apabila tekanan inflasi dari sektor energi terus berlanjut.
Di sisi lain, kondisi ini berbanding terbalik dengan Amerika Serikat. Setelah data inflasi (CPI) AS melambat lebih besar dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed justru menurun. Perbedaan arah kebijakan ini berpotensi menciptakan volatilitas baru di pasar mata uang.
Apa Dampaknya bagi Trader Forex?
Bagi trader forex, perkembangan ini menjadi salah satu faktor fundamental yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi pergerakan sejumlah pasangan mata uang utama.
Beberapa dampak yang berpotensi terjadi antara lain:
Jika pasar semakin yakin ECB akan kembali menaikkan suku bunga.
Ekspektasi ECB yang cenderung hawkish berhadapan dengan peluang The Fed yang mulai mengurangi agresivitas kenaikan suku bunga.
Jika Brent terus bertahan di atas US$85 atau bahkan naik lebih tinggi, tekanan inflasi di Eropa berpotensi meningkat.
Mata uang negara pengimpor energi cenderung lebih rentan melemah apabila harga minyak terus naik, sementara mata uang negara pengekspor minyak berpotensi memperoleh dukungan.
Fokus Pasar Pekan Ini
Menjelang keputusan ECB, perhatian investor akan tertuju pada beberapa faktor utama:
- Perkembangan konflik AS - Iran dan situasi di Selat Hormuz.
- Pergerakan harga minyak Brent dan WTI.
- Pernyataan terbaru dari pejabat ECB selama menjelang masa tenang (blackout period).
- Perubahan ekspektasi pasar terhadap jalur suku bunga ECB dan The Fed.
Selama ketegangan geopolitik masih berlangsung dan harga minyak tetap tinggi, volatilitas di pasar forex diperkirakan akan tetap meningkat. Bagi trader, kombinasi antara faktor geopolitik, inflasi, dan kebijakan bank sentral akan menjadi penggerak utama pasangan mata uang seperti EUR/USD, USD/JPY, hingga mata uang komoditas dalam beberapa pekan ke depan.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

-終わり-