
Poundsterling (GBP) menguat tipis terhadap dolar AS pada perdagangan sesi Asia, Rabu, setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam satu pekan. Pasangan GBP/USD sempat memantul dari area 1,3360, namun penguatannya masih terbatas dan tetap diperdagangkan di bawah level 1,3400 karena pelaku pasar memilih menunggu sejumlah katalis penting.
Salah satu faktor yang mendukung penguatan pound adalah melemahnya dolar AS setelah muncul harapan bahwa jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran dapat membantu meredakan ketegangan geopolitik sekaligus menurunkan tekanan pada harga energi. Sentimen tersebut mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.
Meski demikian, konflik di Timur Tengah masih jauh dari selesai. Ketegangan antara AS dan Iran terus berlangsung, sementara penutupan Selat Hormuz serta blokade maritim yang diumumkan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Kondisi ini mendorong harga minyak bertahan di level tinggi dan meningkatkan risiko inflasi.
Prospek inflasi yang tetap tinggi membuat pasar masih memperkirakan Federal Reserve (The Fed) berpotensi melakukan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Ekspektasi tersebut membatasi pelemahan dolar AS dan sekaligus menahan penguatan GBP/USD.
Di sisi Inggris, investor kini mengalihkan perhatian pada rilis Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) yang akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan Bank of England (BoE). Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat peluang BoE mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sementara angka yang lebih lemah berpotensi menekan nilai tukar pound.
Selain data inflasi, pasar juga mencermati arah kebijakan fiskal pemerintahan baru Perdana Menteri Andy Burnham. Investor masih menunggu rencana fiskal jangka panjang pemerintah, terutama terkait strategi pembiayaan program-program ekonomi.
Analis Rabobank menilai ketidakjelasan mengenai arah fiskal Inggris menjadi salah satu sumber kekhawatiran utama pasar. Menurut mereka, Inggris memiliki tingkat tabungan yang relatif rendah dan defisit transaksi berjalan yang cukup besar, sehingga pasar obligasinya lebih sensitif terhadap perubahan sentimen maupun kebijakan pemerintah.
Dalam jangka pendek, pergerakan GBP/USD diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh hasil data inflasi Inggris, perkembangan konflik di Timur Tengah, serta ekspektasi kebijakan suku bunga dari Bank of England dan Federal Reserve. Selama ketidakpastian tersebut masih tinggi, volatilitas pada pasangan mata uang ini diperkirakan tetap meningkat.
免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

-終わり-