Prospek Perdamaian AS-Iran di Ujung Tanduk, Minyak Melambung 2%

avatar
· Views 669
  • Harga minyak naik 2% karena risiko gangguan pasokan AS-Iran.
  • Selat Hormuz hampir tertutup, produksi OPEC turun.
  • Eskalasi konflik bisa dorong Brent lebih dari USD115; stok AS turun.

Ipotnews - Harga minyak melambung sekitar 2%, Selasa, setelah harapan untuk kesepakatan perdamaian yang mengakhiri perang Amerika-Israel versus Iran memudar.
Perbedaan mencolok antara Teheran dan Washington terkait proposal damai kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, melonjak USD2 atau 1,9%, menjadi USD106,21 per barel pada pukul 14.26 WIB, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Selasa (12/5).
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melompat USD2,31, atau 2,4%, menjadi USD100,38 per barel. Kedua tolok ukur ini sebelumnya melesat hampir 2,8% pada sesi Senin.
Presiden AS Donald Trump, Senin, menyatakan gencatan senjata dengan Iran berada "di ambang kehancuran", mengacu pada perselisihan mengenai beberapa tuntutan, termasuk penghentian permusuhan di semua front, penghapusan blokade laut Amerika, dilanjutkannya penjualan minyak Iran, dan kompensasi kerusakan akibat perang.
Teheran juga menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, jalur yang menyalurkan sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global.
"Optimisme terkait kesepakatan damai segera tampaknya memudar, dan jika tidak ada kesepakatan hingga akhir Mei, risiko kenaikan harga minyak pasti muncul," kata Suvro Sarkar, Kepala Tim Sektor Energi DBS Bank.
Gangguan akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz mendorong produsen memangkas ekspor. Survei  Reuters  pada Senin menunjukkan produksi minyak OPEC sepanjang April merosot ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.
"Terobosan nyata menuju kesepakatan damai bisa memicu koreksi tajam USD8-12, sementara setiap eskalasi atau ancaman blokade baru akan dengan cepat mendorong Brent kembali ke atas USD115," kata Tim Waterer, Chief Market Analyst KCM Trade.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, Senin, memperingatkan bahwa gangguan ekspor minyak melalui selat tersebut bisa menunda kembalinya stabilitas pasar hingga 2027, dengan kehilangan sekitar 100 juta barel per minggu.
Di sisi pasokan lain, analis dalam jajak pendapat  Reuters  memperkirakan stok minyak mentah Amerika menyusut sekitar 1,7 juta barel minggu lalu.
Walt Chancellor, analis Macquarie Group, menambahkan bahwa penurunan ini terjadi di tengah "arus ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan yang kuat melalui jalur laut, selama beberapa pekan ke depan."
Pasar juga menyoroti rencana pertemuan Presiden Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada Kamis dan Jumat, menyusul sanksi Amerika terhadap tiga individu dan sembilan perusahaan yang memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke China.
Tarif yang diberlakukan selama perang dagang Amerika-China telah menghentikan sebagian besar impor minyak dan LNG AS ke China, yang nilainya mencapai USD8,4 miliar pada 2024, tahun sebelum Trump memulai masa jabatan keduanya. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

免責事項:本記事で述べられている見解は著者の見解のみであり、Followmeの公式見解を反映するものではありません。Followmeは、提供された情報の正確性、完全性、信頼性について一切責任を負いません。また、書面で明示的に記載されている場合を除き、本記事の内容に基づいて行われたいかなる行動についても責任を負いません。

この記事が気に入ったら、著者にチップを送って感謝の気持ちを表しましょう。
応答 0

古いコメントはありません。ソファをつかむ最初のものになりましょう。

  • tradingContest